Nisaluthfi

jika Dikau tak karuniakan jalan,
ketauhilah bahwa jiwa pasti tersesat:
jiwa yang hidup tanpaMu —
anggaplah itu mati!

jika Dikau perlakukan dengan buruk
hamba-hambaMu,
jika Dikau mencerca mereka, Tuhan,
Dikaulah Raja —
tak soal apa pun yang Dikau lakukan,

dan jika Dikau menyebut matahari,
rembulan indah itu “kotor”,
dan jika Dikau katakan si “jahat”
adakah rampingnya cemara nun di sana itu,
dan jika Dikau katakan Takhta
semua alam itu “rendah”,
dan jika Dikau sebut lautan
dan tambang emas “fakir lagi miskin” —
itu sah saja,
sebab Dikaulah yang Mahasempurna:
Dikaulah satu-satunya yang mampu
menyempurnakan segala yang fana!

Jalaluddin Rumi — Matsnawi

Pict by author

--

--

Image courtesy of Google

segala harap habis terbantai
asa percaya tercerai-berai
merana diri tak jua selesai

langkah kaki terayun gontai
air mata jatuh berderai-derai
tak tahu sebab berandai-andai

waktu berjalan rasa berantai-rantai
sakitnya sungguh tak kunjung usai
nafas tersengal-sengal tak tergapai

bau busuk menguar tak terurai
aku termakan kata-kata bangkai
sial! dasar mulut bangkai!

Januari, 2022

--

--

Image courtesy of Google

gemuruh guntur membentur angkasa
mencipta nada bersama runtuhan tirta
yang selama ini sabar dinanti telah tiba
suka cita tak kuasa membuncah dada

ia yang tersimpan sunyi retak oleh teriak
kilatan petir membuat semakin bersorak
sepasang kaki tak sabar berlari bergerak
bibir mungil tak henti bernyanyi berdecak

melompat menari mencipta kecipak cipak
dalam raga mendewasa ia tetap berdetak
ringan bergembira tanpa syarat prasangka
anak-anak memang tak pelihara rasa curiga

kata dan luka karena alpa terhapus lupa
esok kembali berjuang riang merajut asa
tak ia simpan dendam dan luka terlalu lama
anak-anak memang paling tahu cara bahagia

dalam deras runtuh hujan aku menyelam
menuju bayang kenangan kelam masa silam
jiwa anak-anak membuat nyala ego padam
ia tak pernah kapok meski telah luka lebam

Januari, 2022

--

--

Image courtesy of Google

karunia untuk seorang pengelana
lahir dari cinta kasih Sang Pencinta
kawan berjalan dalam suka dan duka
agar tak lagi sendiri melawan dunia

merengkuh rahmah Ilahi sbagai amanat
ikrar ijab terucap dalam upacara khidmat
taat dalam niat ibadat sampai akhir hayat
pada Sang Maha Cinta segala harapan tertambat
salam selamat dan do’a semesta untukmu, sahabat…

--

--

A Short Note

Ikhlas is acceptance and completely letting go, beautifully combined. It is a feeling that certainly need to be achieved when reality different from your wishes, dream, or expectation.

Ocean not only accommodate various water, also rubbish and garbage. If a heart can be like an ocean, wholly accommodate and manage any feeling, even the worst one.

Journey through ikhlas may be done in a glimpse of an eye, days, or years. And when time is running out before achieving it, I will bring any of those ugly feeling to my eternal rest.

So, how is ikhlas feels like?

When you defecate, have you ever bringing up about your shit again? That’s right, you let the shit go.

--

--

derap gempita perayaan hari merdeka
kerumun berduyun-duyun berupacara
rupanya hanya acara ritual tahunan belaka
tuntutan profesi semata tak terlalu bermakna

Pict by <a href=”https://pixabay.com/id/users/matthias_groeneveld-4535957/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=2176248">Matthias Groeneveld</a> from <a href=”https://pixabay.com/id/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=2176248">Pixabay</a>
Pict by Matthias Groeneveld from Pixabay

sukanya hanya pura-pura
katanya mengabdi negara
nyatanya menumpuk harta
merangkak mengais-ais tahta

berteriak untuk rakyat jelata
agar mereka tentram sejahtera
tersebar menyerbu justru derita
makin menjerit tercekik sengsara

bangga berslogan negara berbudaya
junjung tinggi adat leluhur bangsa
yang ada hanya tiru-tiru belaka
segalanya dari mancanegara

Pancasila kata-kata tak pernah jadi nyata
semboyan kesatuan tak bisa ditawar nyawa
kenyataan perpecahan telah di depan mata
porak poranda cuma akibat pilihan ganda

cinta negara bualan penuh dusta
sumpah setia hanya untuk sebuah citra
ini memang cuma negara pura-pura
senantiasa bergaya pura-pura merdeka

(Agustus , 2021)

--

--

Pict by author

aku membisu ditelan waktu
bukan, bukan karena bujuk rayu
membisu haru mengagumi sikapmu
tak kau serbu aku dengan harap semu
kata-katamu tak teramu janji palsu

lihai mengelola rasa
hati-hati merangkai kata
takut lain salah merasa
terluka mendekap asa
tanpa pernah berusaha
membuat menjadi nyata

kenyang makan bualan belaka
sungguh bukan kecewa ku rasa
aku benar-benar jatuh terpana
sikapmu terlampau bijaksana
tak apa cinta sementara tak terkata
terpanjat selalu harapan dan do’a
selagi masih terbuai sisa-sisa asa
untuk kita melangkah berjuang bersama

syukurku tak jemu kita pernah bertemu
meski entah jadi apa nanti belum tentu
apa pun itu, kau seorang kawan rinduku
aku senang mengenalmu .....

--

--

hujan membumi hampir setiap hari
padahal ini masihlah bulan Juni
semestinya mentari tak henti menyinari
adakah musim telah salah berganti?

siang hari langit kuncup meredup
terdengar rintik gerimis sayup-sayup
tanpa terasa tiba-tiba tanah basah kuyup
adakah musim hujan datang menyelundup?

hujan barangkali datang mengacau
burung sejenak berhenti berkicau
mentari sewajarnya menyinar berkilau
bukankah semestinya ini musim kemarau?

Pict by author

kupikir layaknya kemarau hadir di bulan Juni
tak paham arti mengapa musim salah berganti
rupa-rupanya agar ku tak berhenti menulis puisi
karena hujan tak pernah lelah bersedekah inspirasi

--

--

musim berganti silih beralih
hatiku telah kembali pulih
rasa lama mengusik berbisik lirih
kiranya telah rela merajut kasih

Pict by author

rindu menggema sahut-menyahut
menyuara rasa yang lama terpaut
namamu tak pernah alpa tersebut
meski raga tak saling merenggut

kidung merdu bernada kelabu
sunyi senyap meledak berseru-seru
memanggul rindu yang terus memburu
kiranya ku memang sudah tak mampu

bayangmu bergelayut lembut
kata cinta tercekat di ujung mulut
hanya senyum terlukis di sudut
akankah mimpi ini saling terajut?

meski nanti masih terselimut kabut
pinta tak henti terangkai berturut-turut
asa tentang kita tak pernah surut
bersama hingga maut menjemput

--

--